
Pengembangan energi angin ataupun surya berbasis wilayah membuka peluang untuk mengurangi emisi dari penyediaan listrik di Yogyakarta. Melalui hibah riset, tim peneliti Program Studi Teknologi Rekayasa Elektro, Sekolah Vokasi UGM, menelaah potensi tersebut bersama dampaknya terhadap biaya penyediaan listrik. Penelitian ini dikoordinasikan oleh Ir. Lukman Subekti, M.T., IPM.
Kajian membandingkan kebutuhan pasokan dari sistem Jawa–Madura–Bali (Jamali) dengan kontribusi pembangkit angin lokal. Hasil analisis mengindikasikan potensi pengurangan emisi apabila energi angin menggantikan sebagian pasokan berbasis fosil. Besarnya manfaat bergantung pada produksi listrik yang dapat dimanfaatkan dan karakteristik pasokan yang digantikan.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya melihat biaya pengembangan secara bertahap. Potensi manfaat ekonomi jangka panjang perlu dipertimbangkan bersama biaya pada tahap awal dan kebutuhan integrasi jaringan. Pendekatan tersebut membantu menilai pilihan energi bersih tanpa mengabaikan keterjangkauan listrik.
Kajian ini sejalan dengan SDG 13, Penanganan Perubahan Iklim, melalui penyediaan dasar analisis untuk perencanaan energi rendah emisi. Keterkaitannya dengan SDG 7 terletak pada upaya menyeimbangkan pemanfaatan energi terbarukan, kebutuhan pasokan, dan biaya. Kajian ini menyediakan bahan pertimbangan lingkungan dan ekonomi bagi perencanaan transisi energi daerah.