
Meningkatnya kebutuhan energi nasional seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi menuntut Indonesia untuk mampu menyediakan pasokan listrik yang andal, merata, dan berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan unik dalam distribusi energi antarpulau — bagaimana menciptakan sistem interkoneksi yang efisien sambil tetap menjaga kemandirian energi di tiap wilayah.
Bali menjadi salah satu wilayah yang menarik untuk dikaji karena memiliki target ambisius menuju Net Zero Emission (NZE) lebih cepat dari target nasional. Ketergantungan sistem kelistrikan Bali terhadap pasokan berbasis fosil menimbulkan kebutuhan mendesak akan strategi transisi energi yang mampu menekan emisi tanpa mengorbankan keandalan pasokan dan kestabilan ekonomi daerah. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti yang terdiri dari Ahmad Adhiim M, Luthfi Fathur Rahman, dan sejumlah anggota tim lainnya mengembangkan model perencanaan sistem energi menggunakan Long-range Energy Alternatives Planning (LEAP). Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai skenario pengembangan energi jangka panjang yang mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, dan keekonomian dalam sistem kelistrikan pulau.

Dari hasil analisis, integrasi teknologi pengendalian emisi dengan perluasan energi baru terbarukan (EBT) terbukti menjadi faktor penting dalam upaya pengurangan emisi di masa depan. Kombinasi pembangkit berbasis fosil yang lebih bersih dengan EBT dinilai mampu memperkuat keandalan sistem sekaligus menjaga ketahanan energi daerah. Walau berimplikasi pada peningkatan biaya produksi energi dibandingkan skenario konvensional, perhitungan ini masih bersifat indikatif karena berbasis data sekunder, dan bertujuan untuk memberikan pandangan awal mengenai arah pengembangan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Ke depan, penelitian ini akan dikembangkan lebih lanjut dengan memperdalam pemodelan sistem EBT secara spasial dan temporal, termasuk analisis potensi sumber daya surya, bayu, dan biomassa di wilayah Bali. Selain itu, tim juga berencana melakukan optimasi interkoneksi antarpulau untuk melihat peluang efisiensi sistem energi terdistribusi di kawasan timur Indonesia. Penggunaan Battery Energy Storage System (BESS) akan menjadi fokus tambahan untuk menilai peran penyimpanan energi dalam meningkatkan fleksibilitas sistem dan integrasi EBT dalam skala besar.
Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi kebijakan dan rancangan sistem energi yang lebih tangguh, rendah karbon, dan sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Penelitian ini menjadi bagian dari rangkaian riset berkelanjutan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 (Affordable and Clean Energy).