
Setelah melalui serangkaian proses seleksi berlapis dan kompetitif yang menjadi standar perusahaan, Syah Ridho Natiqoh, mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) dibawah bimbingan langsung Dr. Ir. Atikah Surriani, S.T., M.Eng, berhasil meraih kesempatan prestigious sebagai Plant Technician Intern di PT P&G Operations Indonesia. Keberhasilannya untuk lolos dari ratusan pelamar lainnya menandai awal dari sebuah perjalanan transformatif di jantung industri manufaktur dunia.
Ridho berhasil menyelesaikan perjalanan magang intensif selama enam bulan penuh dengan melangkah penuh percaya diri dari segudang pengalaman aplikatif yang diperoleh di PT P&G Operations Indonesia. Perannya sebagai peserta magang bukan hanya sekedar pengamat, namun menjadi aktor dari tiga pilar operasional kritis: Quality Control, Machine Operator, dan Preventive Maintanance (PM) Executor. Pengalaman ini baginya sebagai katalis transformatif, memperkaya bekal menuju dunia profesional yang penuh dinamika.
Bersama bimbingan mentor berpengalaman, Ridho terlibat dalam menjaga standar kualitas produk yang terkenal ketat. Pengalaman ini merupakah hal baru baginya yang tidak didapatkan di bangku kuliah, melihat dan menjadi bagian dalam produksi shampoo dengan standar kualitas tinggi untuk mencapai kepuasan pelanggan. Aktivitas Quality Control tidak hanya terbatas pada pengambilan sampel, tetapi juga analisis data real-time, pemahaman mendalam terhadap spesifikasi produk, serta partisipasi dalam investigasi akar permasalahan untuk tiap temuan di luar batas toleransi. “Ini mengajarkan bahwa kualitas bukan soal hasil akhir, namun budaya yang dibangun tiap detik proses produksinya”, ujarnya
PT P&G Operations Indonesia sebagai FMCG company memproduksi ribuan produk shampoo tiap harinya dengan mesin berteknologi canggih. Ridho memperoleh kesempatan untuk mengelola dan mengoperasikannya. Ia mempelajari alur material, melakukan aktivitas changeover, operasi mesin dan troubleshooting dasar, hingga yang tepenting adalah menjaga kontinuitas lini produksi sebagai tanggung jawab operations dalam menjaga performance rate (PR) lini. “Dibalik teori automation yang dipelajari di bangku perkuliahan, saya tersadar bahwa mesin tidak serta merta jalan dengan sendirinya, peran operator mesin menjadi ‘nyawa’ yang harus memiliki kesadaran penuh akan performa dan suara mesinnya,” tambahnya.

Perusahaan yang memperoleh IWS (Integrated Work System) – sistem operasi global P&G yang berfokus pada keunggulan berkelanjutan, Ridho berkontribusi dalam suksesnya penerapan pilar-pilarnya, salah satunya AM (Autonomus Maintanance). Ia diajak untuk menerapkan ilmu perawatan mesin secara proaktif, melalui kegiatan DH (Defect Handling) – menemukan, melaporkan dan menyelesaikan jika mampu defect pada area produksi, CIL (Cleaning, Inspection & Lubrication) – melakukan cleaning berbasis inspeksi pada tiap komponen mesin dan melumasi bagian mesin yang bergerak, dan CL (Center Line) – melakukan audit standar value setting mesin agar berjalan dengan lancar. Dasar dari aktivitas tersebut bagaimana memindahkan unplanned downtime ke planned downtime guna efesiensi produksi.
Lebih dari sekedar pengalaman personal, magang ini memberikan cakrawala pengetahuan bagaimana sistem perusahaan bekerja, khususnya perusahan dengan label IWS (Integrated Work System) yang menekankan pada keunggulan berkelanjutan. Kontribusi Ridho sebagai peserta magang berupa partisipasi dalam loss identification dengan setidaknya menemukan 25 defect tiap bulannnya, partisipasi dalam proyek loss elimination, dan ikut serta dalam memberikan insight pada forum Daily Direction Setting (DDS) berdasar kerangka kerja Daily Management System (DMS) guna memberikan kelancaran proses produksi. “Sebagai operations kami dipercaya bukan sebagai helper, namun sebagai mitra yang memberikan sudut pandang segar untuk meningkatkan stabilitas dan efesiensi,” jelasnya.


Line manager bottle area, Muhammad Adib, memberikan apresiasinya terhadap program magang plant technician. “Program magang ini dirancang untuk menantang dan mengembangkan talenta unggul di masa depan yang lihai dalam teknis produksi manufaktur. Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya terhadap energi, pemikiran kritis, dan kontribusi nyata oleh para intern terhadap perjalanan IWS kami. Mereka adalah bagian dari upaya kami membangun ekosistem industri yang unggul,” ujarnya.
Dengan selesainya periode magang ini, membuktikan keunggulan prodi Teknologi Rekayasa Elektro UGM dalam mencetak generasi bangsa yang bukan hanya ahli teori, namun pembangun solusi di lapangan. Syah Ridho Natiqoh adalah buktinya: seorang mahasiswa Teknologi Rekayasa Elektro yang sukses mentrasformasikan keilmuannya menjadi keahlian operasional yang lihai di jantung sistem manufaktur global. Hal ini membuktikan profil lulusan masa depan: tangguh, adaptif, dan multidisiplin. Siap memimpin di garis depan revolusi industri.
